Showing posts with label wisata budaya. Show all posts
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts

Sunday, June 10, 2012

Potret Pasar Terapung Muara Kuin Yang Nyaris Punah

Ditengah menjamurnya mini market diseluruh pelosok tanah air, ternyata pasar tradisional terapung yang terletak di aliran Sungai Barito, tepatnya di Muara Sungai Kuin, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Bajarmasin, Kalimantan Selatan ini, berusaha tetap bertahan ditengah gempuran pasar modern, Pasar unik yang ber-aktifitas mulai bedug salat Subuh sampai selepas pukul tujuh pagi itu, selalu di jadikan tempat transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai barito dan anak-anak sungainya. Memang suasananya bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawam lokal maupun macanegara. Untuk menelusuri keberadaannya, berikut situs tips wisata murah merangkum hiruk pikuk yang terjadi disana

Sekilas Potret Pasar Terapung Muara Kuin
Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, ini sesuatu yang sangat langka, Satu persatu kekayaan khasanah budaya kita mulai tergerus oleh jaman. bagaimana tidak. pasar pasar didaratan mulai bertumbuhan seperti jamur dimusim hujan. Yang secara tidak langsung menyurutkan semangat para pedagang wanita yang disebut dukuh (penjual hasil produksinya sendiri atau dagangan tetangga) dan para panyambangan ( semacam tengkulak atau pengecer, yang membeli barang dari para dukuh)

Bagi yang sudah pernah mengunjungi pasar terapung muara kuin akan memberikan kenangan tak terlupakan tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas air memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga akan mengetahui pola transaksi jual beli yang telah berumur lebih dari 400 tahun. Oleh karenanya, pasar ini menjadi saksi bisu perjalanan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan. Sebenarnya keberadaan pasar itu sudah melekat dengan daerah tersebut, sampai ada pameo. Anda belum ke banjarmasin kalau belum menginjakan kaki di muara kuin

Sebagai ibu kota propinsi, pusat perdagangan dan pariwisata. Kota Banjarmasin mendapat julukan kota air karena letak daratannya beberapa senti meter di bawah permukaan air laut. Jika kita berangkat dari pusat Kota dengan mengendarai perahu mesin atau yang biasa disebut klotok, diperlukan waktu sekitar 45 menit, ubtuk bisa menyaksikan aktivitas di floating market di aliran Sungai Barito yang kiwir kiwir nyaris punah.

Betapa bijaksananya seandainya pasar yang tak mustahil bisa jadi obyek wisata terunik didunia itu masih diberi ruang untuk bertahan, dengan cara membagi zona usaha atau kapling batasan larangan mini market berdiri disekitar area barito, yang terbukti sudah jadi wasilah menghidupi masyarakatnya sejak ratusan tahun silam..Yupz.. salam wisata keluarga Indonesia

Foto; Fikria Hidayat

Thursday, May 24, 2012

Uniknya Resepsi Pengantin Toraja

Perkawinan adat toraja ini tergolong paling unik dan tidak akan pernah ada saksikan di wedding party manapun. Ada budaya menyandingkan pelaminan pengantin dengan tengkorak para leluhur di suatu tempat (rumah) yang disebut Tongkonan. Dan tahapan ini pengantin duduk berdampingan yang di apit oleh kedua orang tua mempelai, dihadapan para kesaksian tamu undangan. Tentu anda pingin mengetahui uniknya upacara resepsi pengantin ala orang toraja ini bukan..?. Berikut liputan sahabat Hariyanto yang di abadikan di situs tips wisata murah untuk anda ketahui. Dan karya PNS yang hobi travelling sebelumnya yang di muat di situs ini adalah Tour Wisata Sulawesi Selatan. Sekarang mari kita ikuti liputannya

Pesta Perkawinan Adat Toraja Warisan Budaya Yang Masih Terjaga
Oleh: Hariyanto Wijoyo

Perkawinan Adat Toraja yang disebut Rampanan Kapa' merupakan prosesi adat yang sangat dimuliakan masyarakat Toraja, karena merupakan bahagian terbentuknya susunan pondasi kebudayaan suku Toraja. Tampak perbedaan yang jelas antara prosesi adat perkawinan Toraja dengan perkawinan di daerah lain. Karena bukanlah penghulu agama yang mensyahkan perkawinan itu ,tetapi dilaksanakan oleh Pemerintah Adat yang dinamakan Ada’ dan perkawinan itu diatur oleh peraturan dari ajaran adat Aluk Todolo yang disebut Aluk Rampanan Kapa’.Prosesi perkawinan di Toraja terlaksana karena adanya persetujuan kedua belah pihak, kemudian disyahkan dalam perjanjian disaksikan oleh pemerintah adat dan seluruh keluarga.

Dari jauh sudah tampak Mobil Pendoloan, yaitu mobil khusus yang berjalan didepan Mobil Pengantin, memasuki lokasi pesta. Mobil Pendoloan itu diikuti oleh Mobil Pengantin dibelakangnya kemudian berhenti tidak jauh dari pusat pesta, untuk menurunkan pengantin dan rombongan yang menyertainya.


[perkawinan adat toraja]

Pengantin lelaki yang bernama Mika kemudian membawa pengantin perempuan Lola menuju Gereja untuk disyahkan secara agama , kemudian kembali ke lokasi pesta. Pada saat menuju lokasi pesta, di depan ada pasukan yang membawa Doke semacam Tombak, kemudian disusul dengan barisan pagar ayu yang berbaju adat Kandore yaitu baju adat Toraja yang berhiaskan Manik-manik yang menjadi penghias dada, gelang, ikat kepala dan ikat pinggang. Ada dua warna baju para pagar ayu, yaitu Merah dan Putih, kemudian di belakang mereka berjalan-lah pasangan pengantin dengan diiringi oleh Payung Kebesaran, selanjutnya menyusul-lah para keluarga dari keluarga kedua mempelai. Kedua mempelai itu berjalan menuju kursi pelaminan yang telah disediakan.

[perkawinan adat toraja]

TENGKORAK DI ATAS TONGKONAN LOMBOK

Nama tempat pelaksanaan pesta perkawinan adalah Tongkonan LOMBOK, dan disitulah pelaminan pengantin disediakan. Tongkonan adalah Rumah Tradisional Toraja yang dihiasi dengan ukiran berwarna hitam, merah dan kuning. Kata Tongkonan sendiri berasal dari bahasa Toraja yaitu Tongkon yang berarti duduk.

Kalau diperhatikan dengan seksama, maka di bahagian atas tongkonan itu ada semacam etalase yang terbuat dari kaca, lalu di dalam kaca tersebut terpajanglah Lima Tengkorak Kepala Manusia. Saya mencoba mencari tahu keberadaan tengkorak-tengkorak itu, dan hampir semua mengatakan bahwa itu adalah tengkorak dari para penguasa Tongkonan Lombok sejak jaman dahulu kala. Dan sebagai penghormatan, maka tengkorak-tengkorak mereka diletakkan di situ. Dan bagi masyarakat Toraja, sudah menjadi kebiasaan tinggal bersama sisa-sisa jasad para leluhur mereka. Bahkan ketika mayat belum dikuburpun, biasanya disimpan terlebih dahulu di dalam rumah tempat mereka tinggal.
[perkawinan adat toraja]

Untuk mengetahui ritual lebih lanjut. Anda bisa mengikuti Link Ini
semoga bermanfaat dan salam wisata keluarga Indonesia

Sunday, April 8, 2012

Mengenal Rumah Joglo Jawa

[rumah joglo]

Kebudayaan dan adat istiadat suatu suku bangsa bisa kita lihat dari ujud bentuk maupun cita rasa yang ditinggalkannya, Seperti rumah adat orang jawa yang berujud rumah joglo yang bercita rasa tinggi dengan atribut ornamen yang dipergunakannya.. Untuk mengenal rumah joglo jawa lebih dekat, mari bersama situs tips wisata murah kita telusuri pernak pernik ciri yang melekat pada rumah joglo

Struktur Rumah Joglo

struktur rumah jogloSecara struktur rumah joglo terdir dari ampat tiang penyangga di tengah atau biasa disebut soko guru. Untuk pengikat tiang tersebut, biasanya memakai balok kayu pengerat atau blandar bersusun yang di sebut tumpangsari. Blandar tumpangsari ini bersusun ke atas, makin ke atas makin melebar. Dan jumplah susunan blandar ada yang sampai sembilan susun atau hanya tiga susun. Tentunya jumplah dari blandar susun tersebut memperlihatkan status dari pemilik bangunan joglo tersebut

Konstruksi Rumah Joglo

seni kontruksi joglo Memahami Seni arsitektur dan seni konstruksi rumah joglo pada mulanya (dasar) berbentuk bujur sangkar dengan ampat tiang penyagga(soko guru) dan yang menjadi ciri khas atap joglo, dapat dilihat dari bentuk atapnya yang merupakan perpaduan antara dua buah bidang atap segi tiga dengan dua buah bidang atap trapesium. Dan dari dua bidang kemiringannya juga berbeda, pada bagian menyambung keteras terlihat cenderung mendatar ceper. dan disusul dengan atap utama yang cenderung mempunyai kemiringan agak vertikel. Tentu bangunan ini seperti dirancang untuk tahan gempa, dengan susunan blandar dan atap yang saling erat menyangga getaran gempa dari pondasi yang dibuang pada ujung bangunan yang lancip pada atap diatas. Secara umum pondasi pada bangunan rumah joglo berbentuk segi ampat melingkar seperti pagar bumi. Dari materi bahan bangunanpun dipilih dari bahan yang berkualitas dan cukup mahal harganya. Seperti kayu jati yang berusia rtusan tahun atau kurang dan kadang juga dari kayu nangka pilihan.

Saturday, April 7, 2012

Mengunjungi New OHD Museum Magelang

[new OHD museum magelang]

Menarik juga mengunjungi New OHD Museum yang didominasi warna merah hitam belaka . Museum pribadi milik Oei Hong Djien yang boleh dikunjungi siapa saja ini berada di Jl Jenggolo No 14 Magelang Jawa Tengah. Ketika admin situs tips wisata murah mampir kemarin di beri tahu oleh penjaga ,kalau New OHD Museum masuk Guiness Book of Record pada tanggal 23 April 2012 mendatang

New OHD Museum ini menyimpan banyak lukisan dan sketsa. dan beberapa patung kayu yang unik. terlihat lukisan Affandi yang terkenal itu. dan lukisan karya Sudjojono, Hendra Gunawan H. dan Widayat juga turut dipajang dalam daftar koleksi museum seni rupa New OHD di magelang tersebut . Karya lukis para maestro yang diasumsikan sebagai saksi perjuangan bagsa indonesia ini terkesan sangat menonjol dan seperti mempunyai daya tarik tersendiri. Kurang tahu ketika admin situs tips wisata murah melihat patung kayu itu seperti terkesan hidup, terutama pada bola mata yang seakan mengawas terus

New OHD Museum setiap hari selasa ditutup. Namun pada hari hari biasa dibuka mulai jam 10.00-18.00 WIB. Boleh juga kalau pas lewat magelang dari arah yogyakarta atau semarang mampir ke museum ini meneggok koleksi karya maestro seni lukis indonesia. Dan klau anda suka kuliner. boleh tu nyobain kuliner magelang

Monday, March 26, 2012

Sejarah Asal Usul Tanjungpinang Memprihatinkan


Sejarah asal-usul berdirinya Kota Tanjungpinang yakni Kota Piring, yang berada di Kelurahan Melayu Kota Piring saat ini memprihatinkan. Situs sejarah yang mana di sana dulunya terdapat istana kota piring yang didirikan oleh Raja Haji Fisabilillah, kini tidak lagi menunjukan adanya sebuah sejarah yang besar. Karena situs-situs berupa reruntuhan istana itu sebahagian besar telah diruntuhkan oleh warga.

Bahkan saat ini di Pulau Biram Dewa di mana pernah berdiri istana itu, telah berdiri puluhan rumah warga. Padahal di sana terdapat papan pengumuman dari dinas kebudayaan dan pariwisata yang mengatakan kawasan itu merupakan kawasan situs sejarah dan benda-benda reruntuhan itu merupakan bagian dari benda cagar budaya.

Kondisi tentu sangat memprihatinkan, sebuah situs yang merupakan simbol sejarah berdirinya sebuah kota yang saat ini sudah berusia 223 tahun, ternyata terabaikan.

Padahal setiap tahun hari jadi kota ini selalu diperingati dengan berbagai macam kegiatan, namun simbol kebesaran sejarahnya sendiri tidak diperhatikan.

Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada disbudpar Tanjungpinang, salah seorang pihak yang terkait untuk masalah ini mengatakan tidak bisa memberikan komentar banyak.

Narasumber yang enggan ditulis namanya itu mengatakan, pihaknya telah berupa mengusulkan agar kawasan itu bisa dibebaskan dari warga, dengan cara mengganti rugi rumah warag yang sudah berdiri dan kemudian membuat replika dari istana kota piring itu.

Namun kenyataannya usulan itu tidak ditanggapi oleh wakil rakyat yang ada di DPRD Tanjungpinang. Alasannya hal itu tidak mendatangkan pendapatan bagi kota ini.

" Jika ada yang menanggapi serius mungkin hanya beberapa orang, namun yang lainnya tidak, sehingga program ini tidak berjalan," sesalnya


Sumber: www.batamtoday.com

Ketika Selat Malaka Jadi Tempat " Budak" Melayu Bermain

KALAU saja Sultan Husin dan Tumenggung Abdul Rahman tidak termakan bujuk rayu John Crawfurd untuk melepaskan kekuasaan mereka atas Singapura, boleh jadi sejarah Nusantara hari ini berjalan di atas garis yang berbeda. Hanya karena tergiur imbalan masing-masing 33.200 ringgit dan 26.000 ringgit, keduanya rela ”menjual” negeri pulau itu kepada Inggris.

Namun, sejarah tak mengenal jalan pulang. Ibarat sebuah perjalanan, sejarah hanya memberi kita tiket sekali jalan. Dan, pada 2 Agustus 1824, John Crawfurd dalam kapasitasnya sebagai Residen Singapura ketika itu berhasil mendapatkan tanda tangan Sultan Husin dan Tumenggung Abdul Rahman.

Setelah melepas Singapura dan pulau-pulau sekitarnya kepada Inggris, duet penguasa dari Kerajaan Johor itu masih mendapat elaun (semacam ”santunan”) bulanan. Masing-masing 1.300 ringgit bagi Sultan Husin dan 700 ringgit untuk Tumenggung Abdul Rahman. Jika keduanya berhasrat meninggalkan Singapura, Syarikat Hindia Timur Inggris akan memberikan ”sagu hati” masing-masing 20.000 ringgit kepada Sultan Husin dan 15.000 ringgit untuk Tumenggung Abdul Rahman.

Nukilan peristiwa sejarah yang terjadi hanya beberapa bulan setelah Inggris dan Belanda menandatangani Traktat London pada 17 Maret 1824 itu melengkapi perubahan geopolitik di wilayah Nusantara. Kesepakatan Inggris dan Belanda yang berbagi koloni di kawasan Selat Melaka itu ikut mengubah peta peradaban dan perjalanan budaya bangsa Melayu di wilayah ini.

Kerajaan Melayu-Johor (lama) yang semula mencakup wilayah Riau dan Kepulauan Riau saat ini, dengan pusat pemerintahannya yang berpindah-pindah di antara Johor-Bintan- Lingga-Penyengat, akhirnya terbelah, baik secara geopolitik kekuasaan maupun dalam satuan wilayah geografis pemerintahan.

Dalam perkembangan berikutnya, pemisahan wilayah kekuasaan Melayu-Johor dan Melayu-Riau-Lingga tersebut secara perlahan memengaruhi pula pola kekerabatan warga antarbangsa serumpun ini. Lebih-lebih setelah kawasan Tanah Semenanjung dan Kepulauan Nusantara menjadi bagian dari sebuah negara yang berdiri sendiri.

Pemahaman Melayu sebagai entitas kebangsaan pun berubah: dari ”kita” menjadi ”kami”. Bahkan sebagai entitas budaya pun kemelayuan itu ikut bergeser. Apalagi, sebagaimana sinyalemen Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Mukhlis PaEni, pertautan budaya yang menyangkut hati nurani itu dikalahkan oleh kepentingan ekonomi antarnegara.

Wilayah semenanjung yang dulu adalah tempat orang-orang dari Bukit Siguntang (baca: Palembang), Minang, Bugis, Jawa, dan Aceh (sekadar menyebut beberapa nama suku bangsa) beranak-pinak sejak akhir abad ke-14, kini hanya tercatat dalam buku-buku klasik macam kitab Sejarah Melayu (1563) dalam berbagai versinya dan Tuhfat al-Nafis (1865). Rasa kebangsaan, nasionalisme, pada warga di masing-masing negara ikut menyurukkan semangat keserumpunan yang memang sudah berangsur meredup.

Dilihat dari perspektif sejarah, tak berlebihan apabila sejarawan-budayawan Taufik Abdullah sampai berucap: ”Terkutuklah Inggris dan Belanda karena mengadakan perjanjian 1824, yang telah membagi-bagi sebuah wilayah kesejarahan.”

Menggagas keserumpunan

”Bagi kami, Selat Melaka, Laut Jawa, dan Selat Sunda adalah ruang bermain. Di sana, ’budak-budak’ Melayu tidak merasa sebagai orang asing, tapi seperti di negerinya sendiri,” kata Datuk Zainal Abidin Borhan, profesor madya dari Akademi Pengkajian Melayu, Universitas Malaya.

Dalam konteks semacam itu pula, di depan peserta dialog budaya Indonesia-Malaysia di Jakarta, beberapa waktu lalu, Datuk Zainal Abidin Borhan sempat mengungkapkan kegusarannya tatkala ada yang menuding mereka sebagai ”pencuri” naskah-naskah Melayu klasik yang ada di wilayah Nusantara. Dia juga mengaku heran mengapa niat baiknya menghimpun naskah-naskah karya Tenas Effendy, tokoh Melayu-Riau, dituding sebagai sebuah kelancangan.

Akan tetapi, masalahnya memang tidaklah sesederhana wacana untuk menggagas terbentuknya ”negara-bangsa” serumpun, dengan Melayu sebagai basisnya. Di tengah situasi yang berubah, perspektif sejarah tak selalu berjalan seiring dengan kenyataan yang terpapar hari ini. Ketika mereka yang ada di semenanjung melihat naskah- naskah Melayu klasik sebagai warisan bersama, misalnya, sebagian (untuk tidak menyebut mayoritas) mereka yang tinggal di Kepulauan Nusantara boleh jadi berpandangan sebaliknya.

Apalagi, sebagaimana diakui oleh tokoh Melayu seperti Tan Sri Dato’ Ismail Hussein, semangat nasionalisme yang kental di masing-masing negara menjadi tantangan tersendiri dalam upaya membangun semangat keserumpunan. ”Negara-negara jiran dilihat sebagai saingan,” katanya.

Jika sudah demikian, gagasan untuk kembali ke ”akar umbi” sebagai bangsa serumpun menjadi kian pelik. Meski Melayu sebagai basis keserumpunan dalam pemahaman orang-orang dari Tanah Semenanjung juga termasuk Jawa dan lain sebagainya, ikatan emosi di rantau Nusantara ini sendiri belum menemukan bentuknya. Persoalan ”kita” dan ”kami” masih menganga. Situasi internal semacam ini—atau internal discrepancies, meminjam istilah Taufik Abdullah—tak selamanya bisa dipahami oleh tetangga di Tanah Semenanjung.

Masalahnya memang berpulang pada niat baik semua pihak. Ucapan Datuk Zainal Kling dari Universitas Malaya ini patut direnungkan. Katanya, ”Gagasan itu memiliki obligasi moral dan sosial untuk saling membantu, meringankan beban, dan saling bekerja sama.

Sumber: Kompas,rujukan dari http://cabiklunik.blogspot.com

Monday, July 18, 2011

Borobudur Tempo Dulu

borobudurtempodulu
Ada pertanyaan yang mengusik tentang awal mula berdirinya candi Borobudur,yang disebut sebut merupakan Candi Budha Terbesar di Abad ke-9. Tips wisata murah mencari Buku dan referensi online yang mengkaji taman dan warisan budaya borobudur yang berada di 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.dan 105 km di sebelah barat daya Semarang jawa tengah.

Borobudur tempo dulu menurut J.G. de Casparis,( sejarawan dalam disertasinya untuk gelar doktor pada tahun 1950 ) mengatakan, Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan,borobudur mulai dibangun diperkirakan pada tahun 1824 M 1+.
Dan beberapa ahli sejarah menurut sumber yang di gali tips wisata murah melalui artikel borobudur juga menuturkan. Dalam prasasti Kalkutta yang tertulis ‘Amawa’ tersebut dimaknai lautan susu.yang diartikan wedus gembel atau lahar dingin letusan gunung merapi yang menimbun candi Borobudurtersebut. Masih menurut Casparis pendiri Borobudur adalah Samaratungga Raja Mataram dari wangsa Syailendra,dan bangunan candi tersebut diselaikan oleh putri samara tungga yang bernama Ratu Pramudawardhani, tapi sayang dalam catatan tersebut J.G. de Casparis tidak menyebut tahun berapa candi tersebut diselesaikan.

borobudurdepan
Pada tahun 1814, waktu Thomas Stamford Raffles dari belanda yang menguasai jawa. memperintahan Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk meninjau bukit itu. kemudian Cornelius dengan bantuan ratusan penduduk membersihkan candi yang dikabarkan tertimbun tersebut. Dalam beberapa catatan menyebutkan pemugaran sempat terhenti dan dilanjutkan pada 1825.Pada 1834, dan tahun 1842 stupa candi legendaris itu ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Ada beda pendapat tahun pembuatan antara keterangan J.G. de Casparis dalam disertasi gelar doktornya dengan kisah babat tanah jawa dan nama borobudur itu sendiri di ketahui dari naskah Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang di perkirakan ditulis pada tahun 1365 Masehi 1+. Tips wisata murah mendapati ada selisih 500 tahun pada berita kontroversi pendapat Casparis tentang Borobudur tempo dulu dengan naskah Negarakertagama karangan Mpu Prapanca di atas 1+. Masih adakah versi berita lain sejarah berdirinya tempat wisata borobudur yang jadi nama hotel tersebut


Topik yang sejenis
  1. borobudur peninggalan nabi suleman
  2. Kisah Candi Prambanan
Salam wisata keluarga