Monday, March 26, 2012

Indahnya Danau Kelimutu Dengan Misterinya

Danau Kelimutu terletak dipuncak Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara administratif Danau Kelimutu berada diantara 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Ndona dan Kecamatan Detsuko.
Kelimutu berasal dari kata Keli (artinya: gunung) dan Mutu (artinya: mendidih). Danau Kelimutu terdiri dari tiga kubangan raksasa yang terbentuk dari kawah yang ada dipuncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian ± 1.640 meter diatas permukaan laut. Pada tanggal 26 Februari 1992 kawasan Danau Kelimutu ditetapkan sebagai Taman Nasional, wilayahnya meliputi 5 kecamatan yaitu Detsuko, Ndona, Ndona Timur, Wolojita dan Kelimutu.
Danau Kelimutu merupakan salah-satu obyek wisata di Indonesia, yang juga merupakan salah-satu wisata andalan di Pulau Flores. Banyak turis mancanegara yang datang ke Danau Kelimutu sehingga membuat namanya terkenal sampai ke berbagai belahan dunia.

Hal –Hal Yang Menarik Pengunjung
Danau Kelimutu mempunyai keunikkan tersendiri, yaitu masing-masing kubangan mempunyai warna air yang selalu berubah-ubah setiap tahunnya. Danau Kelimutu merupakan salah-satu keajaiban yang ada didunia ini, indah dan misteri.
Ketika Danau Kelimutu mulai dikenal oleh masyarakat luas, warna masing-masing kubangan adalah merah, biru dan putih, kemudian setiap tahunnya mengalami perubahan warna. Menurut informasi dari Taman Nasional Kelimutu, dalam waktu 25 tahun ini Danau Kelimutu sudah mengalami perubahan warna sebanyak 12 kali. Sejumlah peneliti mengatakan bahwa perubahan warna ini bisa saja diakibatkan dari perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas gunung api, meningkatnya suhu air kawah, pembiasan sinar matahari, pantulan dinding kawah, pantulan dasar danau, kandungan mineral yang ada didalam kawah, batu-batuan dan biota jenis lumut.
Danau Kelimutu adalah salah-satu keajaiban alam yang sangat unik dan sering juga disebut sebagai Danau Tiga Warna atau Danau Tri Warna.

Disekitar Kawasan Kelimutu, pengunjung dapat juga melihat dan menikmati keindahan alam, seperti air terjun, tempat pemandian air hangat, sawah dan jalan-jalan terjal yang melingkar disepanjang punggung bukit.
Bagi yang menyukai kegiatan hiking, kawasan Kelimutu adalah kawasan yang bagus untuk kegiatan hiking.
Di Kawasan Kelimutu terdapat juga hutan dengan berbagai floranya, seperti kayu merah, pinus, bunga edelweiss, cemara. Terdapat juga fauna, seperti ayam hutan, rusa, babi hutan, elang.

Perjalanan menuju Danau Kelimutu
Dengan menggunakan pesawat, berangkat dari Kota Kupang ibukota NTT menuju Kota Ende di Pulau Flores, waktu yang diperlukan ± 40 menit perjalanan.
Sesampai di Kota Ende, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menuju ke Kampung Moni yang terletak di Desa Kaonara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, dengan menggunakan angkutan umum minibus dan untuk menuju Kampung Moni dibutuhkan waktu ± 3 jam perjalanan dengan menempuh jarak sejauh 93 km. Dari Kampung Moni menuju Puncak Danau Kelimutu masih harus berjalan sejauh ± 2,5 km.

Fasilitas Yang Tersedia di Kawasan Danau Kelimutu
Tersedia lahan parkir mobil dan sepeda motor, losmen, homestay, cottage, pondok jaga, shelter, MCK.

Saat Terbaik Untuk Berkunjung Ke Danau Kelimutu
Waktu yang terbaik untuk melihat Danau Kelimutu adalah di pagi hari ketika matahari terbit. Ketika memasuki pukul 9 pagi waktu setempat, sekitar danau mulai diselimuti oleh kabut dan akan berkabut sampai sore hari sehingga akan menghalangi pandangan pengunjung.

Perlengkapan Yang Wajib Dibawa
Udara dikawasan Kelimutu cukup dingin, maka perlu untuk membawa baju hangat atau jaket.

Sekilas Informasi :
Di Kabupaten Ende, penduduk setempat menyebut ketiga kubangan ini dengan sebutan Tiwu Ata Mbupu (Danau Orangtua), Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (Danau Muda-Mudi) dan Tiwu Ata Polo (Danau Tukang Tenung).
Tiwu Nua Muri Ko’o Fai dan Tiwu Ata Polo hanya dipisahkan dinding terjal selebar 15 sampai 20 meter dengan ketinggian dindingnya antara 50 sampai dengan 150 meter tingginya. Sekitar 300 meter disebelah barat Tiwu Nua Muri Ko’o Fai terletak Tiwu Ata Mbupu.

Dikaki Gunung Kelimutu terdapat penjual kain tenun Lio. Kain tenun Lio adalah hasil karya buatan tangan masyarakat setempat.

Sumber: id-id.facebook.com/pages/Info-Wisata-Alam

Sejarah Asal Usul Tanjungpinang Memprihatinkan


Sejarah asal-usul berdirinya Kota Tanjungpinang yakni Kota Piring, yang berada di Kelurahan Melayu Kota Piring saat ini memprihatinkan. Situs sejarah yang mana di sana dulunya terdapat istana kota piring yang didirikan oleh Raja Haji Fisabilillah, kini tidak lagi menunjukan adanya sebuah sejarah yang besar. Karena situs-situs berupa reruntuhan istana itu sebahagian besar telah diruntuhkan oleh warga.

Bahkan saat ini di Pulau Biram Dewa di mana pernah berdiri istana itu, telah berdiri puluhan rumah warga. Padahal di sana terdapat papan pengumuman dari dinas kebudayaan dan pariwisata yang mengatakan kawasan itu merupakan kawasan situs sejarah dan benda-benda reruntuhan itu merupakan bagian dari benda cagar budaya.

Kondisi tentu sangat memprihatinkan, sebuah situs yang merupakan simbol sejarah berdirinya sebuah kota yang saat ini sudah berusia 223 tahun, ternyata terabaikan.

Padahal setiap tahun hari jadi kota ini selalu diperingati dengan berbagai macam kegiatan, namun simbol kebesaran sejarahnya sendiri tidak diperhatikan.

Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada disbudpar Tanjungpinang, salah seorang pihak yang terkait untuk masalah ini mengatakan tidak bisa memberikan komentar banyak.

Narasumber yang enggan ditulis namanya itu mengatakan, pihaknya telah berupa mengusulkan agar kawasan itu bisa dibebaskan dari warga, dengan cara mengganti rugi rumah warag yang sudah berdiri dan kemudian membuat replika dari istana kota piring itu.

Namun kenyataannya usulan itu tidak ditanggapi oleh wakil rakyat yang ada di DPRD Tanjungpinang. Alasannya hal itu tidak mendatangkan pendapatan bagi kota ini.

" Jika ada yang menanggapi serius mungkin hanya beberapa orang, namun yang lainnya tidak, sehingga program ini tidak berjalan," sesalnya


Sumber: www.batamtoday.com

Ketika Selat Malaka Jadi Tempat " Budak" Melayu Bermain

KALAU saja Sultan Husin dan Tumenggung Abdul Rahman tidak termakan bujuk rayu John Crawfurd untuk melepaskan kekuasaan mereka atas Singapura, boleh jadi sejarah Nusantara hari ini berjalan di atas garis yang berbeda. Hanya karena tergiur imbalan masing-masing 33.200 ringgit dan 26.000 ringgit, keduanya rela ”menjual” negeri pulau itu kepada Inggris.

Namun, sejarah tak mengenal jalan pulang. Ibarat sebuah perjalanan, sejarah hanya memberi kita tiket sekali jalan. Dan, pada 2 Agustus 1824, John Crawfurd dalam kapasitasnya sebagai Residen Singapura ketika itu berhasil mendapatkan tanda tangan Sultan Husin dan Tumenggung Abdul Rahman.

Setelah melepas Singapura dan pulau-pulau sekitarnya kepada Inggris, duet penguasa dari Kerajaan Johor itu masih mendapat elaun (semacam ”santunan”) bulanan. Masing-masing 1.300 ringgit bagi Sultan Husin dan 700 ringgit untuk Tumenggung Abdul Rahman. Jika keduanya berhasrat meninggalkan Singapura, Syarikat Hindia Timur Inggris akan memberikan ”sagu hati” masing-masing 20.000 ringgit kepada Sultan Husin dan 15.000 ringgit untuk Tumenggung Abdul Rahman.

Nukilan peristiwa sejarah yang terjadi hanya beberapa bulan setelah Inggris dan Belanda menandatangani Traktat London pada 17 Maret 1824 itu melengkapi perubahan geopolitik di wilayah Nusantara. Kesepakatan Inggris dan Belanda yang berbagi koloni di kawasan Selat Melaka itu ikut mengubah peta peradaban dan perjalanan budaya bangsa Melayu di wilayah ini.

Kerajaan Melayu-Johor (lama) yang semula mencakup wilayah Riau dan Kepulauan Riau saat ini, dengan pusat pemerintahannya yang berpindah-pindah di antara Johor-Bintan- Lingga-Penyengat, akhirnya terbelah, baik secara geopolitik kekuasaan maupun dalam satuan wilayah geografis pemerintahan.

Dalam perkembangan berikutnya, pemisahan wilayah kekuasaan Melayu-Johor dan Melayu-Riau-Lingga tersebut secara perlahan memengaruhi pula pola kekerabatan warga antarbangsa serumpun ini. Lebih-lebih setelah kawasan Tanah Semenanjung dan Kepulauan Nusantara menjadi bagian dari sebuah negara yang berdiri sendiri.

Pemahaman Melayu sebagai entitas kebangsaan pun berubah: dari ”kita” menjadi ”kami”. Bahkan sebagai entitas budaya pun kemelayuan itu ikut bergeser. Apalagi, sebagaimana sinyalemen Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Mukhlis PaEni, pertautan budaya yang menyangkut hati nurani itu dikalahkan oleh kepentingan ekonomi antarnegara.

Wilayah semenanjung yang dulu adalah tempat orang-orang dari Bukit Siguntang (baca: Palembang), Minang, Bugis, Jawa, dan Aceh (sekadar menyebut beberapa nama suku bangsa) beranak-pinak sejak akhir abad ke-14, kini hanya tercatat dalam buku-buku klasik macam kitab Sejarah Melayu (1563) dalam berbagai versinya dan Tuhfat al-Nafis (1865). Rasa kebangsaan, nasionalisme, pada warga di masing-masing negara ikut menyurukkan semangat keserumpunan yang memang sudah berangsur meredup.

Dilihat dari perspektif sejarah, tak berlebihan apabila sejarawan-budayawan Taufik Abdullah sampai berucap: ”Terkutuklah Inggris dan Belanda karena mengadakan perjanjian 1824, yang telah membagi-bagi sebuah wilayah kesejarahan.”

Menggagas keserumpunan

”Bagi kami, Selat Melaka, Laut Jawa, dan Selat Sunda adalah ruang bermain. Di sana, ’budak-budak’ Melayu tidak merasa sebagai orang asing, tapi seperti di negerinya sendiri,” kata Datuk Zainal Abidin Borhan, profesor madya dari Akademi Pengkajian Melayu, Universitas Malaya.

Dalam konteks semacam itu pula, di depan peserta dialog budaya Indonesia-Malaysia di Jakarta, beberapa waktu lalu, Datuk Zainal Abidin Borhan sempat mengungkapkan kegusarannya tatkala ada yang menuding mereka sebagai ”pencuri” naskah-naskah Melayu klasik yang ada di wilayah Nusantara. Dia juga mengaku heran mengapa niat baiknya menghimpun naskah-naskah karya Tenas Effendy, tokoh Melayu-Riau, dituding sebagai sebuah kelancangan.

Akan tetapi, masalahnya memang tidaklah sesederhana wacana untuk menggagas terbentuknya ”negara-bangsa” serumpun, dengan Melayu sebagai basisnya. Di tengah situasi yang berubah, perspektif sejarah tak selalu berjalan seiring dengan kenyataan yang terpapar hari ini. Ketika mereka yang ada di semenanjung melihat naskah- naskah Melayu klasik sebagai warisan bersama, misalnya, sebagian (untuk tidak menyebut mayoritas) mereka yang tinggal di Kepulauan Nusantara boleh jadi berpandangan sebaliknya.

Apalagi, sebagaimana diakui oleh tokoh Melayu seperti Tan Sri Dato’ Ismail Hussein, semangat nasionalisme yang kental di masing-masing negara menjadi tantangan tersendiri dalam upaya membangun semangat keserumpunan. ”Negara-negara jiran dilihat sebagai saingan,” katanya.

Jika sudah demikian, gagasan untuk kembali ke ”akar umbi” sebagai bangsa serumpun menjadi kian pelik. Meski Melayu sebagai basis keserumpunan dalam pemahaman orang-orang dari Tanah Semenanjung juga termasuk Jawa dan lain sebagainya, ikatan emosi di rantau Nusantara ini sendiri belum menemukan bentuknya. Persoalan ”kita” dan ”kami” masih menganga. Situasi internal semacam ini—atau internal discrepancies, meminjam istilah Taufik Abdullah—tak selamanya bisa dipahami oleh tetangga di Tanah Semenanjung.

Masalahnya memang berpulang pada niat baik semua pihak. Ucapan Datuk Zainal Kling dari Universitas Malaya ini patut direnungkan. Katanya, ”Gagasan itu memiliki obligasi moral dan sosial untuk saling membantu, meringankan beban, dan saling bekerja sama.

Sumber: Kompas,rujukan dari http://cabiklunik.blogspot.com

Berburu Benda Antik di Jalan Surabaya

Keberadaan pasar, konon sudah ada sejak 40 tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan barang dagangan yang dijajakan di sini? Berbagai barang antik, sebut saja seperti Porselen, keramik, patung kayu, wayang, topeng, peralatan makan dari kuningan, cendera mata senjata tradisional antik, pajangan logam, ornamen-ornamen kuno, lampu antik, semua bisa anda dapatkan di sini. Anda juga bisa menemukan benda-benda yang benar-benar unik dan langka seperti alat-alat kapal (kompas, teleskop, setir, dll) atau telepon antik dan kamera kuno.

Barang antik lainnya yang bisa anda temukan di sini adalah piringan hitam klasik. Berbagai koleksi piringan hitam di sini sangatlah mengesankan. Mulai dari musisi lokal sampai musisi internasional. Jalan Surabaya seringkali dianggap surga bagi para kolektor piringan hitam. Temuan-temuan yang mengejutkan menunggu di sini bagi mereka yang memiliki waktu dan bersedia untuk jongkok dan menelusuri berbagai tumpukan piringan hitam di toko-toko yang saling berhimpitan ini.

Sebelum berbentuk toko-toko yang berderet di Jalan Surabaya, para penjual barang antik ini mendagangkan barang-barangnya dengan pikulan, berkeliling Kota lama Jakarta, kemudian beralih menjual di peti-peti dan tenda. Suasana antik dan berkesan "pasar" yang sedikit berantakan sengaja dipertahankan, karena menurut para penjual, kesan berantakan inilah yang menjadi daya tarik pasar ini.

Pelanggan yang belanja di pasar barang antik Jalan Surabaya sampai sekarang masih didominasi oleh wisawatan asing, namun tak jarang pula kolektor dan wisatawan negeri sendiri. Keberadaan pasar barang antik di Jalan Surabaya ini sudah "go international" dan merupakan salah satu pusat wisata belanja Jakarta yang dilestarikan oleh pemerintah DKI Jakarta. Maka tak heran jika Mick Jagger, Sharon Stone bahkan Bill Clinton pernah mampir ke pasar ini ketika berkunjung ke Jakarta, untuk mengoleksi beberapa barang antik. Dinas pariwisata pemeritah DKI Jakarta juga mempromosikan tempat ini sebagai tempat wisata belanja, dalam program "Enjoy Jakarta". Karena pasar ini terletak di tengah Kota Jakarta, maka untuk mencapainya sangatlah mudah. Lokasi yang paling dekat dengan daerah ini dimana anda bisa memulai perjalanan anda adalah Pusat perbelanjaan Sarinah. Dari sana anda bisa naik taksi, ojek, bis kota atau bajaj.

Harga barang-barang antik yang dijual di Jalan Surabaya ini bervariasi. Mulai lima ribuan sampai belasan juta rupiah. Tetapi harga-harga ini masih sangat fleksibel. Dengan sedikit usaha, anda bisa membawa pulang benda yang anda inginkan dengan harga setengah dari yang ditawarkan. Barang-barang langka yang asli tersedia dengan harga yang jauh lebih mahal. Ini juga merupakan cara mudah untuk membedakan mana barang yang asli dan imitasi dengan mudah. Menawar suatu keharusan di sini, yang juga merupakan keahlian untuk membedakan mana barang yang benar-benar antik dengan barang yang sengaja dibuat antik. Jika anda tidak ahli dalam menawar, maka ada baiknya mengajak teman yang pandai bersilat lidah untuk melakukan penawaran bagi anda

Satu hal yang perlu anda ketahui mengenai Jalan Surabaya adalah jalan ini terletak di antara pepohonan yang rindang nan teduh, dan yang tidak akan anda dapati di pasar loak lainnya yang seringkali bercampur dengan polusi serta panas dari asap kendaraan. Selain itu, walaupun bertajuk 'Pasar' yang identik dengan keramaian, nyatanya pasar loak yang satu ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pengunjung yang hilir mudik kesana kemari. Oleh karena itu anda akan dapat berbelanja atau sekedar melihat-lihat dengan leluasa.(Wta/220408)

Sumber: dari berbagai sumber
Sumber rujukan: 88DB com

Rumah panjang






Salah satu rumah adat yang cukup memiliki kekhasan tersendiri adalah rumah panjang.Rumah adat kalimantan barat ini memang sangat unik, selain karena bentuknya yang panjang dan berbeda dibandingkan rumah biasa lainya, rumah panjang juga berpanggung, sehingga terlihat panjang dan tinggi.Rumah Panjang atau disebut rumah betang adalah sebuah tiruan (reflika) dari rumah panjang tradisional suku Dayak di daerah pedalaman Kalimantan. Rumah ini dibangun dengan tiang tinggi lebih dari 2 meter, sehingga orang dapat dengan leluasa berjalan di bawah dan di dalam rumah. Rumah Panjang terletak di Jalan Sutoyo Pontianak, berdampingan dengan Perpustakaan Daerah Propinsi Kalimantan Barat, sekitar 100 meter dari Museum Propinsi. Di lokasi ini biasanya dilakukan gawai Adat Dayak yaitu pesta panen padi yang dilakukan etnis Dayak dengan menampilkan berbagai kesenian dan tradisi dari sub-sub etnis Dayak yang ada di Kalimantan Barat.
Betang panjang atau rumah betang suku Dayak Kalimantan diambang kepunahan. Kini rumah yang dikenal juga sebagai rumah adat itu sudah langka dan sulit ditemukan di perkempangungan Dayak. Di Kalimantan Barat (Borneo Barat) betang panjang hanya bisa ditemui di sebagian kecil kampung lagi. Dari 13 kabupaten/kota se-Kalbar, hanya bebarapa kabupaten yang masih ada betangnya.Untuk itu wisatawan yang datang kekalimantan barat biasanya menyempatkan diri untuk melihat lihat rumah panjang yang mulai susah dijumpai lagi.



Sumber Rujukan Bumi Nusantara

Cagar Alam Raya Pasi




Cagar Alam Raya Pasi ini dinukil utuh dari Bumi Nusantara blogspot com tanpa melalui saduran oleh oleh situs tips wisatamurah..
Cagar Alam Raya Pasi/Obyek Wisata Alam Gunung Poteng dengan luas sekitar 3.742 Ha. Kawasan ini menjadi saah satu tujuan wisata alternatif bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam yang berbeda.Di samping keadaan alamnya sendiri yang potensial sebagai tempat wisata juga terdapat beberapa obyek yang dapat dinikmati, antara lain 4 (empat) buah air terjun, 3 (tiga) buah gua alam, yaitu Gua Gantung Ratu dengan kedalaman 20 m, Gua Naik Mamo 30 m dan Gua Gunung Sebayang 10 m, dan panorama alam hutan.
Sebagai kawasan yang terletak di sekitar kota yang relatif mudah untuk dikunjungi, serta memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar maka Cagar Alam Raya Pasi sangat berprospek apabila dikembangkan sebagai Hutan Wisata Alam. Lokasi dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat selama setengah jam ke Pajintan, diteruskan dengan berjalan kaki selama satu jam.


Cagar Alam Raya Pasi/Obyek Wisata Alam Gunungn Poteng secara geografis terletak di antara 049'-051' Lintang Utara dan 10859'-10991' Bujur Timur. Secara administratif termasuk Kecamatan Tujuh Belas dan sebagian kecil dalam wilayah Kecamatan Samalantan, Kabupaten Dati II Sambas, Propinsi Kalimantan Barat.

Artikel Rujukan: Bumi Nusantara

Cerita Misteri Gunung Gede Pangrango

[gunung gede pangrango]border=

Bagi pendaki yang sering naik turun gunung gede pangrango jawa barat mungkin tak asing lagi dengan kisah mistik dan keanehan yang sering di temui dalam pendakian. Namun untuk orang yang sama sekali tidak pernah naik kesana mungkin akan bertanya tanya. Ada cerita misteri apa di balik gunung gede pangrango.? Yupz untuk sekedar berbagi, situs tips wisata murah akan mengajak anda menelusuri kisah cerita dari pelaku yang pernah mendaki gunung gede itu

Pada tahun lalu ada kelompok mapala dari sebuah universitas swasta di jogja yang mendaki gunung gede ini.Dia menceritakan, Hari pertama waktu menjelang sore lereng gunung hujan gerimis, Udara membuat badan menggigil kedinginan. dan karena situasi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kelompak mapala itu terpaksa nginap di pos Kandang Batu. Menurut ceritanya pada situs tips wisata murah para pendaki biasanya nginap di pos Kandang Badak

Nah saat mereka sedang mendirikan tenda, sebagian dari mereka merasa ada yang mengawasi dari belakang. ketika perasaan itu diutaraka pada teman cowok yang lain, mereka mengaminkan perasaan itu.. Tapi mereka ditegur sama ketua rombongan. karena dipikir mereka mau menukuti para cewek yang disiapkan untuk tidur dalam tenda, (semua cowok tidur dipos kandang badak tersebut)

Kemudian teman itu menuturkan ceritanya sebagai berikut
salah seorang teman yang punya indra keenam dan pintar ngaji ditugaskan untuk menjaga dari luar tenda cewek. Dia duduk bersila membelakangi kami yg lagi asyik ngobrol diremang cahaya lilin. Sayup sayup suara ngajinya terdengar merdu . Tapi lambat laun suara itu menghilang diterpa angin. Karena heran tak mendengar suara ngaji lagi, para senior mendatangi dan memanggil manggilnya. Namun tidak ada jawaban, kemudian para senior menghampirinya,setelah di sentuh sentuh kawan itu jatuh dalam posisi duduk bersila. Suasana jadi kacau balau kami kira herman mati hipotermia. Kemudian kami angkat kedalam pondok. Beberapa lama kemudian tiba tiba dia menyeringai sambil berkata " KALIAN JGN MACAM MACAM DISINI !" setelah itu kawan itu pingsan. hehehe rupanya dia kaslupan (kerasukan)

Sebenarnya ada apa sih di gunung gede pangrango itu..? Menurut mitos yang ditelusuri situs tipa wisata murah menyatakan. bahwa di ketinggian 2.750m dpl yang biasa disebut alun alun alun-alun Surya Kencana di sebelah timur puncak Gunung Gede, Itu konon merupakan kawasan tempat bersemayamnya pangeran surya kencana putra dari Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur, baca situs kawali) . Pangeran Surya Kencana memiliki dua putra, yang pertama Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi yang kemudian hari jadi terkenal itu. Konon Petilasan singgasana Pangeran Surya Kencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang konon dijaga oleh Embah Layang Gading. Begitu ceritanya. Mungkin ada yang mau menambahkan kisah petualangan pendakian di gunung gede pangrango ini, silahkan bubuhkan di kotak komentar.